ANALISIS PENGGUNAAN LUMPUR PEMBORAN PADA FORMASI GUMAI SHALE SUMUR K-13, S-14 DAN Y-6 TRAYEK 12 ¼” CNOOC SES Ltd.

Fadillah Widiatna, Bayu Satyawira, Ali Sundja

Abstract


Salah satu permasalahan yang sering terjadi pada pemboran yaitu berkaitan terhadap
formasi yang reaktif terhadap air, pada formasi tersebut penggunaan lumpur berbahan
dasar air dapat menyebabkan suatu masalah seperti swelling clay, hole pack off, bahkan
stuck pipe. Oleh karena itu perlu dilakukan suatu analisis terhadap kereaktifan formasi
terhadap lumpur berbahan dasar air. Dari studi G&G diketahui bahwa target dari reservoir
lapangan X berada pada formasi Talang akar dan Baturaja, Jika dilihat dari prognosisnya
maka dalam proses pemboran akan menembus formasi Gumai Shale. Formasi itu
menjadi perhatian dikarenakan kandungan mineralnya yang reaktif terhadap air. Hal
tersebut dibuktikan dengan hasil Methylene Blue Test, dari pengetesan terhadap contoh
cutting, didapat bahwa jenis mineral yang terkandung dalam formasi Gumai Shale adalah
mineral Illite, yaitu mineral yang aktif terhadap air. Penggunaan lumpur berbahan dasar
air dapat diaplikasikan pada trajektori tertentu, hal tersebut berkaitan terhadap proses
mengembangnya clay yang membutuhkan waktu, sehingga pada waktu tertentu clay
yang mengembang masih dapat ditoleransi. Menggunaan lumpur berbahan dasar air
dapat diaplikasikan pada sumur dengan panjang trayek <3000 ft dan inklinasi yang
rendah yaitu < 45 deg. Untuk trajektori yang panjang ( > 3000 ft) dan inklinasi tinggi yaitu
> 45 deg dapat menggunakan lumpur berbahan dasar minyak, pemilihan tersebut agar
mengurangi kemungkinan terjadinya masalah dalam operasi pemboran. Pemilihan lumpur
berdasarkan trajektori pun didasari oleh masalah yang biasanya terjadi, seperti masalah
Hole Cleaning. Karena apabila Hole Cleaning tidak berjalan dengan baik maka
penggunaan lumpur akan tidak maksimal. Untuk trayek 12 ¼” laju pompa sirkulasi yang
baik yaitu diatas 1100 GPM, apabila dibawah laju tersebut pengangkatan Cutting akan
tidak maksimal dan dapat menyebabkan penumpukan Cutting pada lubang Annulus.
Untuk membuat satu barrel lumpur berbahan dasar air dibutuhkan biaya $50 - $70,
sedangkan untuk lumpur berbahan dasar minyak dibutuhkan biaya hingga $280. Jika dilihat
dari biaya per barrel tentu lumpur berbahan dasar air lebih murah, namun pada
kenyataannya ekonomis tidaknya penggunaan lumpur tergantung pemilihan yang tepat
pada suatu keadaan. Apabila dilihat dari lama penggunaan, lumpur OBM akan lebih
ekonomis dibanding WBM karena dapat digunakan kembali untuk pemboran selanjutnya,
sedangkan untuk WBM hanya digunakan untuk satu kali pemboran.

Full Text:

PDF

Article Metrics

Abstract views : 0| PDF views : 0


DOI: http://dx.doi.org/10.25105/semnas.v0i0.254

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License. Seminar Nasonal Cendekiawan, Lembaga Penelitian, Universitas Trisakti University @2017. All right reserved.