KONDISI KIMIA PADA TANAH HASIL ENDAPAN VOLKANIK DAERAH LEUWINANGGUNG, KECAMATAN TAPOS, KOTA MADYA DEPOK, PROVINSI JAWA BARAT

Gana Vige Ortega, Suherman Dwi Nuryana, Arini Dian Lestari

Abstract


Daerah penelitian terletak di Kelurahan Leuwinanggung, Kecamatan Tapos, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat. Penelitian kondisi kimiawi tanah dilakukan untuk melengkapi pengetahuan tentang daerah Leuwinangung dari aspek geologinya dimana sebelumnya daerah Leuwinaggung menjadi objek penelitian hidrokimia dan infiltrasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui informasi tentang kondisi tanah dari komposisi kimianya. Metodologi yang digunakan dengan melakukan survey lapangan pada 11 titik lokasi pengamatan dan analisa hasil uji laboratorium terhadap 4 sampel tanah dari 4 titik lokasi penelitian. Karakteristik kimiawi tanah pelapukan pada daerah Leuwinanggung menunjukkan tanah tinggi akan unsur oksida besi. Kehadiran okisda besi karena adanya proses pelapukan secara kimia pada endapan vulkanik dan menyebabkan unsur kimia berkonsentrasi dengan oksigen sehingga terjadi oksidasi pada unsur primer. Pelapukan yang sudah memasuki tahap lanjut menyebabkan jumlah unsur hara primer pada tanah berkurang. Tanah pada daerah penelitian merupakan tanah yang berasal dari lapukan batuan induk dari satuan Kipas Aluvium dengan litologi penyusun berupa batuan tuff.

Full Text:

PDF

Article Metrics

Abstract views : 0| PDF views : 0

References


BAKOSURTANAL. (1996). Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional.

Bennema, J. (1967): The red and yellow soils of the tropical and subtropical uplands. In J.V. Drew. Selected papers in soil formation and classification. S.S.S.A. Special publication, 1, 73- 82.

Dudas, M.J., dan M.E. Harward. (1975): Weathering and authigenic halloysite in soil developed from Mazama ash, 39, 571-577.

Geological Society of London. (1990): Tropical Residual Soils: Geological Society Engineering Group Working Party Report, Jurnal Teknik Geologi, Geological Society of London, 23, 4 – 101.

Lasino. Bambang Sugiharto., Dany Cahyadi. (2011): Pemanfaatan Pasir Dan Debu Merapi Sebagai Bahan Konstruksi Dalam Mendukung Pembangunan Infrastruktur Dan Meningkatkan Nilai Guna Lahar Vulkani, Prosiding PPI Standardisasi 2011, hal. 20-36.

Marbut, C. F. (1949): Pedology with an introduction, Pedology Publication, New Jersey.

PANalytical, B. V. (2009). X-ray Fluorescence Spectrometry. Diakses dari http://www.panalytical.com/index. Pada tanggal 14 Januari 2021 jam 15.07 WIB.

Parfitt, R. L., dan A. D. Wilson. (1985): Estimation of Allophane anf Halloysite in three sequences of volcanic ash soils New Zealand, (dalam) E. Fernandez Caldas., dan D.H. Yaolan (editor), Volcanic Soils, 7, 1-8.

Purwanto, Setyo., Sukarman Kartawisastra., R. A. Gani. (2018): Karakteristik Mineral Tanah Berbahan Vulkanik dan Potensi Kesuburannya di Pulau Jawa.

Schwertmann, U., dan Taylor, R. M. (1989): Iron Oxides, hal. 379-427, (dalam) J. B. Dixon., dan S. B. Weed, Minerals in Soil Environments. USA, hal. 9.

Sudaryo., Sutjipto. (2009): Identifikasi dan penentuan logam pada tanah vulkanik didaerah Cangkringan Kabupaten Sleman dengan metode analisis aktivasi

Turkandi, T., Sidarto, D.A. Agustiyanto, dan M.M. Purbo Hadriwidjoyo. (1992): Peta geologi lembar jakarta dan kepulauan seribu, jawa. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung.

Wada, K. (1989): Allophane and imogolite, hal. 1051-1087. (Dalam) Dixon, J.B., and Weed, S.B. Minerals in Soil Environments. SSSA. Madison.




DOI: http://dx.doi.org/10.25105/jogee.v2i1.8936

Refbacks

  • There are currently no refbacks.