ADAPTASI ARSITEKTUR HUNIAN ETNIK CAMPURAN DI SULAWESI UTARA

Valeria Woy, Uras Siahaan, Rumiati R. Tobing

Abstract


ABSTRAK

Penelitian ini mengkaji tentang bagaimana adaptasi arsitektur yang terjadi pada hunian di permukiman etnik campuran. Penelitian ini menarik untuk dikaji karena pengaruh percampuran etnik menjadi dasar terbentuknya permukiman Jaton dan Mopugad. Jaton merupakan permukiman campuran etnik Minahasa sebagai etnik lokal dengan etnik Jawa sebagai etnik pendatang sementara Mopugad merupakan permukiman campuran etnik Bolaang Mongondow sebagai etnik lokal dengan etnik Bali sebagai etnik pendatang. Kedua permukiman ini menjadi permukiman adat religi karena  nilai-nilai tradisi keagaamaan yang kental di dalam permukiman ini. Kajian adaptasi arsitektur dapat menggali bagaimana terbentuknya elemen-elemen arsitektur pada hunian di Jaton dan Mopugad dan bagaimana pegaruhnya pada perubahan-perubahan yang terjadi akibat modernisasi. Menurut Ibarra, adaptasi merupakan upaya dari manusia untuk meningkatkan kecocokan antara lingkungan dan dirinya. Penelitian ini tergolong penelitian kualitatif dengan mengambil pendekatan deskriptif dan rasionalistik. Pada umumnya hunian pada permukiman jaton mengadaptasi hunian etnik lokal Minahasa sementara hunian pada permukiman Mopugad mengadaptasi hunian etnik pendatang Bali. Keterlekatan sosial masyarakat yang tinggi mengakibatkan proses adaptasi hunian lokal sangat kental pada permukiman Jaton sementara keterlekatan sosial masyarakat yang rendah mengakibatkan masyarakat Mopugad lebih memilih adaptasi hunian asal mereka Bali.

Kata kunci : Adaptasi arsitektur, adaptasi hunian, etnik campuran.

ABSTRACT

This study examines how architectural adaptation that occurs in settlements in mixed ethnic settlements. This research is interesting to study because the influence of ethnic mixing is the basis for the formation of Jaton and Mopugad settlements. Jaton is a mixed Minahasa ethnic settlement as a local ethnic group with Javanese ethnic as a migrant ethnic group while Mopugad is a mixed ethnic settlement of Bolaang Mongondow as a local ethnic group with ethnic Balinese as immigrant ethnic. Both of these settlements become religious custom settlements because of the thick religious tradition values in this settlement. The study of architectural adaptation can explore how the architectural elements in Jaton and Mopugad are formed and how they are influenced by the changes that occur due to modernization. According to Ibarra, adaptation is an effort from humans to increase the compatibility between the environment and himself. This research is classified as qualitative research by taking a descriptive and rationalistic approach. In general, dwelling in the Jaton settlement adapts the occupancy of local Minahasa ethnicities while occupancy in the Mopugad settlements adapts ethnic settlements of Balinese migrants. The high social attachment of the community resulted in a very thick local adaptation process in the Jaton settlement while the low social attachment of the community resulted in the Mopugad community preferring to adapt to their original Bali residence.

Keywords: architectural adaptation, residential adaptation, mixed ethnicity.


Full Text:

PDF


DOI: http://dx.doi.org/10.25105/agora.v16i1.3207

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2018 Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

View My Stats

 

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.